Cinta Di atas Awan

Kalau bukan karena ajakan Uki, teman satu jurusan dan sahabat dekatku, rasanya aku segan untuk mendaki gunung. Apalagi cuaca bulan ini tidak menentu, Kadang-kadang hujan, kadang-kadang cerah, tidak bisa diprediksi. Uki adalah sahabatku yang paling dekat denganku selain Cecep, sehingga aku merasa tak enak untuk menolak ajakannya.
“ Ndi, tahun baruan nanti kita naik gunung yu!” ajak Uki ketika aku dan dia baru saja keluar dari ruang kuliah.
“ Bagaimana ya? Cuaca akhir-akhir ini sulit di prediksi. Aku....... .”
“ Please Ndi! “ Uki memotong jawabanku. “ Soalnya aku sudah janji pada Astri untuk mengajak tahun baruan di Gunung ,” lanjut Uki. Astri adalah pacar Uki. Dia masih satu jurusan dengan kami, hanya beda tingkat. Aku dan Uki tingkat tiga, Astri tingkat satu.
Aku Cuma bisa diam, bingung.
“ Begini saja, semua bekal dan perlengkapan aku yang persiapkan. Kamu tinggal berangkat. Bagaimana?”
“ Bukan itu yang menjadi masalah Ki. Aku sebenarnya sudah berjanji pada orang tuaku, tahun baru nanti akan pulang. Ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan orang tua Aku.” Kilahku.
“ Jadi kau nggak bisa Ndi? “ ujar Uki kecewa.
Aku menghela nafas dan memandang Uki. Ada rasa tak tega melihat Uki kecewa. Bagimana pun Dia adalah sahabat terbaiku dalam suka dan duka.
“ Baiklah. Aku ikut,” kataku beberapa saat kemudian.
“ Bener Ndi?” Uki memandangku dan kemudian memelukku. “ Terima kasih Ndi. Lagi pula Risma teman Astri akan ikut. Kau kan naksir dia. Ini kesempatan Ndi,” kata Uki setelah melepaskan pelukannya.
“ Ah kamu, aku tidak mau bermimpi. Dia bukan levelku. Aku tidak ada apa-apanya dibanding Dia. Apa modalku untuk mendekati Dia? Wajah biasa-biasa saja harta juga tak punya.” Jawabku.
“ Ah, jangan merendah begitu Ndi. Dia memang cantik , tapi orangnya baik dan tidak sombong,” jawab Uki. “ Lagi pula kamu juga tidak jelek-jelek amat. Mengapa harus rendah diri. Kamu punya kelebihan yang tidak dipunyai aku, yaitu pintar. Lagi pula cinta itu buta,” kata Uki lagi.
“ Maksudmu?”
“ Maksudku, cinta itu aneh. Seorang cewek yang cantik belum tentu memilih pasangan yang ganteng. Tiap perempuan mempunyai kriteria berbeda dalam urusan pilihan pendamping hidupnya. Itu kenyataan.”
“ Sudahlah, jangan terus membicarakan Risma. Aku pulang duluan ya! Nanti ngobrol lagi untuk detil persiapan naik gunungnya.” Aku memotong obrolan dan melangkah pulang menuju tempat kos.
****************************************************************************

Gunung yang kami daki tidak terlalu tinggi sehingga pukul empat sore kami sudah hampir sampai ke puncak. Karena sudah cukup lelah, kami memutuskan untuk membuat tenda di sekitar pos terakhir sebelum mencapai puncak. Jarak ke puncak tidak terlalu jauh, sekitar satu sampai dua jam perjalanan, tergantung kecepatan berjalan.
Lokasi perkemahan sudah dipenuhi oleh pendaki yang mendirikan tenda. Ada sekitar 20 tenda yang berdiri sehingga kami terpaksa mendirikan tenda di posisi yang kurang ideal. Kami mendirikan dua tenda, satu untuk aku dan Uki satunya untuk Astri dan Risma.
Sementara kami mendirikan tenda, Astri dan Risma memasak untuk makan sore kami berempat. Tak lama tenda sudah berdiri dan makanan pun siap disantap. Kami makan dengan lahapnya karena perut telah keroncongan sejak masih di perjalanan.
“ Beruntung ya Ndi, cuaca sore ini cerah sehingga kita bisa menikmati keindahan alam ini dengan sempurna, “ ujar Uki sambil memandang ke bawah ke arah kota yang nampak samar samar.
“ Iya, “ kataku sambil melirik Uki. Tak sengaja pandanganku bertemu pandangan Risma yang juga sama melirik ke arah Uki. Rima tersenyum, senyum yang sangat manis menurutku.
“ A, Kita foto-foto disana yu!” Astri mengajak Uki mengambil foto di lokasi yang  dirasa cukup bagus.
Uki Cuma mengangguk dan kemudian mereka pergi meninggalkan Aku dan Risma. Sesaat kami hanya berdiam diri, bingung. Dari kejauhan terdengar suara obrolan sesama pendaki yang diselingi suara tawa gembira. Ada juga yang menyetel musik atau memainkan gitar dan bernyanyi bersama-sama.
“ Kak,.......kok malah bengong? “ Risma berinisiatif memulai pembicaraan. Aku melirik ke Risma.
“ Eueu...eh, enggak. Kakak lagi menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan,” kataku sedikit berbohong.
“ Indah ya, Kak! Sungguh kita ini tidak ada apa-apanya. Serasa begitu kecil dihadapanNya.”
Aku mengangguk. “ Ya, sebagaimana Tuhan menciptakanmu yang begitu indah,” gumanku dalam hati.
Setelah itu obrolan mengalir lancar. Ternyata Risma sangat menyenangkan. Seandainya saja aku bisa menjadi kekasihnya, sungguh bahagia rasanya. Memiliki kekasih seperti Risma adalah anugrah. Selain cantik dia juga rendah hati dan pintar.
Tak terasa waktu berlalu. Malam pun telah tiba. Selepas jam sembilan kami sudah berbaring di tenda. Di luar sana masih terdengar suara-suara orang yang bersenda gurau. Ada juga yang bernyanyi diiringi suara gitar. Setelah itu suasana berubah hening. Hanya hembusan angin gemerisik menyapa dedaunan

Pagi-pagi, pukul tujuh lebih kami sudah berada di perjalanan menuju puncak. Suasana di jalur pendakian sungguh ramai dengan para pendaki yang menuju puncak.  Kami berjalan santai saja, sehingga beberapa kelompok pendaki melewati kami.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba jalur pendakian bercabang dua, ke kiri dan ke kanan. Sejenak kami bingung untuk memilih jalan. Maklum saja, terakhir saya ke gunung ini tiga tahun yang lalu, jadi sudah agak lupa jalan mana yang benar menuju puncak. Akhirnya kami berhenti sambil menunggu rombongan di belakang. Namun beberapa lama kami menunggu tak satupun pendaki yang menghampiri kami. Tampaknyaq semua pendaki yang semalam berkemah di lokasi yang sama telah jauh di depan kami.
“ Ndi, nampaknya kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kamu putuskan saja jalan mana yang harus ditempuh,” kata Uki sambil menatap aku.
“ Justru itu, Ki. Aku sudah lupa. Kamu kan tahu, aku ke sini tiga tahun yang lalu. Dulu rasanya belum ada jalan persimpangan ini,” jawabku sambil mengamati  kedua jalan tersebut.
“ Ya sudah, aku pikir jalan mana pun yang dipilih, semuanya pasti menuju puncak. Sekarang kita ambil suara terbanyak saja. Menurutmu mana jalan yang menuju puncak lebih cepat?”
“ Menurutku jalan yang ke kiri,’’ jawabku sambil menatap Uki.
“ Aku justru sebaliknya. Aku memilih jalan ke kanan. Alasanku, jalan ke kanan cukup lebar, sepertinya sering dilewati orang. Bagaimana menurutmu Astri, Risma?” kata Uki Sambil menatap Astri dan Risma.
“ Aku terserah Kakak saja,” kata Astri.
“ Risma?”
“ Entahlah,......Aku juga terserah Kakak saja,” jawab Risma.
Akhirnya kami memilih jalur ke kiri sesuai pilihan Uki. Jalan yang kami lalui mula-mula agak mendatar dan cukup lebar. Makin lama jalur pendakian semakin mengecil dan akhirnya setelah satu jam berjalan jalan mulai susah dilalui karena terhalang rumput setinggi tubuh orang dewasa sehingga menghalangi pemandangan.
“ Ki, nampaknya ini jalan yang salah. Kita berhenti saja dulu,” tanpa menunggu jawaban aku berhenti.
“ Aku rasa juga begitu. Harusnya saat ini kita sudah sampai di puncak, tapi.....dimana kita sekarang berada?”
“ Kakak.....aku takut!” ujar Astri dengan wajah yang pucat.
“ Tenang Tri, jangan panik,” jawab uki. “ Ndi, menurutmu, apa yang harus kita lakukan,” Uki menatap Aku.
“ Kita balik lagi ke persimpangan tadi.”
“ Oke aku setuju.”
Akhirnya kami balik kanan dan kembali menyusuri jalan yang tadi dilewati. Setelah satu jam berlalu akhirnya kami sampai di persimpangan awal. Setelah sedikit perdebatan akhirnya diputuskan untuk kembali turun karena kondisi Astri dan Risma yang sudah sangat kelelahan.
Meskipun agak kecewa, aku menuruti apa yang telah diputuskan bersama. Setidaknya di pendakian ini aku dapat lebih dekat dengan Risma meskipun baru  sebatas teman, belum ada hubungan apa-apa.
*******************************************************************************
Semenjak pendakian itu, hubunganku dengan Risma semakin dekat saja. Namun hubunganku tetap masih sebatas teman saja belum ada perkembangan berarti. Agak sulit untuk berbicara untuk hal-hal yang bersifat pribadi dengannya. Ada saja alasan bila aku mulai berbicara tentang hubungan kami berdua.
Semakin lama  Aku semakin faham dengan sifat-sifat Dia. Pada dasarnya Ia orang yang ramah dan tidak memandang rendah kepada orang namun agak tertutup bila membicarakan tentang keluarganya di kampung. Seolah ada sesuatu yang disembunyikannya.
Hal itu membuat Aku semakin penasaran.  Hingga suatu saat ia akhirnya berterus terang bahwa di kampungnya ia sudah dijodohkan dengan seorang laki-laki yang masih terhitung saudara jauhnya. Ia tidak berdaya untuk menolak karena orang tua laki-laki tersebutlah yang membiayainya untuk kuliah dikota.
“ Apa kamu suka dengan laki-laki itu,” kataku sambil menatap wajahnya yang menunduk sedih.
“ Entahlah.......aku sendiri tak yakin. Tapi, seandainya pun tak suka ini tidak menyelesaikan masalah. Orangtuaku sudah setuju dengan perjodohan ini.”
“ Menurutku ini aneh. Saat ini kita hidup di abad 21 bukan jaman Siti Nurbaya. Bukan jamannya lagi jodoh-jodohan, “ aku sedikit putus asa.
“ Apa dayaku........aku tak mau menyakiti hati orangtuaku, ” katanya sambil menatapku. “ Maafkan aku ! Aku tahu kau menyukaiku. Tapi aku sungguh tak bisa menerimamu,” lanjutnya seolah dia sudah tau bahwa memang aku suka padanya.
Aku hanya bisa menelan ludah. Habis sudah harapan dalam hati. Aku memahami apa yang dialami Risma. Meskipun terdengar aneh, tapi memang ini kenyataan. Ternyata masih ada perjodohan di jaman sekarang. Aku hanya bisa berdo`a semoga apa yang dipilihkan orangtua Risma menjadi terbaik baginya.

Comments :

Post a Comment