Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 ketika seseorang mengetuk pintu kamar kos. Terdengar suara seorang wanita yang sangat familiar memanggilku. Itu pasti Maya, adik kelasku yaang kos tidak jauh dari tempat kosku. Maya bukan pacarku, hanya sekedar dekat saja. Kedekatan itu bermula ketika ia bergabung dengan kegiatan ekstra di kampus, Kebetulan kami sama-sama aktif di kelompok pecinta alam. Maya cukup menarik menurutku. Penampilannya sederhana namun menarik siapapun yang melihatnya. Harus kuakui, dibalik kesederhanaannya, terpancar kecantikan yang bisa melelehkan hati laki--laki. " Kak, Kakak......bangun dong. Ini sudah siang!" katanya di luar pintu kamar. " Ya," kataku sambil bangkit dari tempat tidur. Sesaat membereskan kamar, sekedar tidak terlalu semrawut seperti kapal pecah. Setelah membuka kunci , kutarik pintu sehingga terlihat pemandangan indah di depan pintu. Maya, sungguh suprise hari ini. Ia tampil tidak seperti biasanya. Ia berdandan sung...
Posts
Hari telah beranjak siang namun Pak Amir masih betah duduk di ruang tengah rumah mertuanya. Di usianya yang menginjak 40 tahun, ia masih saja belum punya rumah. Jangankan rumah, pekerjaan yang dapat menopang hidup keluarganya pun belum punya. Ia hanyalah seorang guru honorer di sebuah sekolah negeri tak jauh dari rumah mertuanya. “ Pak, ini sudah siang. Kok belum berangkat?. Ayo berangkat nanti kesiangan!” ajak istrinya yang sudah siap berangkat. “ Entahlah.. Hari ini Bapak mungkin tidak pergi ke sekolah,” jawab Pak Amir. “ Lho, memangnya Bapak mau ke mana?” tanya istrinya heran. Pak Amir tak menjawab. Dengan langkah gontai Pak Amir bangun dari duduknya. Ia kemudian pergi keluar, menyalakan motor dan pergi kesekolah berboncengan dengan istrinya. Di sekolah Pak Amir tidak seperti biasanya. Tanpa basa-basi ia langsung saja pergi ke kelas. Setelah memberi tugas muridnya, ia duduk termenung di meja guru, dihadapan muridnya yang sedang bekerja. Di dalam otaknya berputar perjalana...
Kalau bukan karena ajakan Uki, teman satu jurusan dan sahabat dekatku, rasanya aku segan untuk mendaki gunung. Apalagi cuaca bulan ini tidak menentu, Kadang-kadang hujan, kadang-kadang cerah, tidak bisa diprediksi. Uki adalah sahabatku yang paling dekat denganku selain Cecep, sehingga aku merasa tak enak untuk menolak ajakannya. “ Ndi, tahun baruan nanti kita naik gunung yu!” ajak Uki ketika aku dan dia baru saja keluar dari ruang kuliah. “ Bagaimana ya? Cuaca akhir-akhir ini sulit di prediksi. Aku....... .” “ Please Ndi! “ Uki memotong jawabanku. “ Soalnya aku sudah janji pada Astri untuk mengajak tahun baruan di Gunung ,” lanjut Uki. Astri adalah pacar Uki. Dia masih satu jurusan dengan kami, hanya beda tingkat. Aku dan Uki tingkat tiga, Astri tingkat satu. Aku Cuma bisa diam, bingung. “ Begini saja, semua bekal dan perlengkapan aku yang persiapkan. Kamu tinggal berangkat. Bagaimana?” “ Bukan itu yang menjadi masalah Ki. Aku sebenarnya sudah berjanji pada orang tuaku, ...