Hanya Sebuah Harapan Semu

Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 ketika seseorang mengetuk pintu kamar kos. Terdengar suara seorang wanita yang sangat familiar memanggilku. Itu pasti Maya, adik kelasku yaang kos tidak jauh dari tempat kosku.

Maya bukan pacarku, hanya sekedar dekat saja. Kedekatan itu bermula ketika ia bergabung dengan kegiatan ekstra di kampus, Kebetulan kami sama-sama aktif di kelompok pecinta alam.

Maya cukup menarik menurutku. Penampilannya sederhana namun menarik siapapun yang melihatnya. Harus kuakui, dibalik kesederhanaannya, terpancar kecantikan yang bisa melelehkan hati laki--laki.

" Kak, Kakak......bangun dong. Ini sudah siang!" katanya di luar pintu kamar.
" Ya," kataku sambil bangkit dari tempat tidur. Sesaat membereskan kamar, sekedar tidak terlalu semrawut seperti kapal pecah.

Setelah membuka kunci , kutarik pintu sehingga terlihat pemandangan indah di depan pintu. Maya, sungguh suprise hari ini. Ia tampil tidak seperti biasanya. Ia berdandan sungguh sangat serasi sehingga terlihat begitu cantik. Aku hanya terbengong-bengong melihatnya.

" Hai, Kak! Kok malah bengong. Bukannya dipersilahkan masuk ada tamu. Ini malah dibiarkan berdiri di depan pintu."
" Oh, eu...ya! Silahkan masuk cantik," kataku. 
" Apa? Cantik? "
" Ia, Cantik, silahkan masuk." Kataku sambil mempersilahkan ia masuk.
" Apa aku nggak salah dengar? Kakak menyebutku cantik, benarkah? Baru kali ini Aku mendengar kata itu dari Kakak."
" Masa?" Kataku. Memang benar sih. Selama ini aku tak pernah secara terus terang menyebutkan ia cantik. Entah dorongan apa, kok tiba-tiba hari ini kata itu keluar tanpa pernah kurencanakan.

Sesaat kami terdiam. Ia sekilas melirik kamarku yang agak berantakan. Tiba-tiba saja tatapannya beradu dengan tatapan mataku. Deg..ada sesuatu yang bergelora di dalam dadaku. Aku mengalihkan pandangan ke bawah.

" Ada apa De pagi-pagi sudah datang ke rumah Kakak?" aku bertaya sambil sedikit menatap wajah Maya (Aku memanggil Maya Ade, disingkat menjadi De)
" Begini Kak! kalau hari ini kakak tidak ada kegiatan, aku mau minta tolong," kata Maya sambil menatap wajahku. Nampaknya Ia sangat berharap aku mengiyakan permintaannya.
" Memangnya ada apa?"
" Aku butuh beberapa barang. Kakak kan punya motor. Kalau bisa tolong antar aku ke Supermarket. Please, Kak!" Kata Maya sambil memelas.

Maya, Maya, kataku dalam hati. Tanpa dimintapun aku mau mengantarmu kemana saja. Berdekatan denganmu sungguh suatu anugerah buatku..

" Nggak bisa, De! Aku ada kegiatan..." Aku pura-pura jual mahal.
" Please deh, Kak. Batalin aja kegiatannya. Aku tak tahu harus kemana lagi minta tolong."
" Kan bisa naik angkot atau bis kota," kataku. 
" Bener nih Kakak tidak bisa antar Aku?"
" Ia, Maaf ya De!!"
" Ya, udah. Kalau kakak tidak bisa, aku naik angkot saja," kata Maya dengan wajah kecewa. Ia bangkit dari duduknya dan akan pergi.
" Tunggu dulu," kataku takut. Takut ia kecewa atas pemainanku. " Baiklah, aku bersedia."

Maya menatapku. " Jadi tadi Kakak mempermainkanku, ya? Nggak, aku tidak jadi minta tolong Kakak. Aku Kecewa."

Ia beranjak pergi ke luar, dan sejenak berdiri di depan kamar menunggu reaksiku. Aku tahu, ia hanya mengujiku saja. Ia ingin membalas permainanku tadi.

" Ya sudah kalau tidak mau diantar. Kakak mau tidur lagi" Aku pura-pura tak memperdulikannya dan merebahkan tubuhku ke kasur.
" Ih, Kakak jahat. Kakak tak mengerti hati perempuan," kata Maya sambil berbalik kembali masuk ke kamar.

**********************************************

Hubunganku dengan Maya semakin lama semakin dekat saja. Aku pengantar setia Maya kemanapun ia pergi, jika tidak ada halangan. Bahkan kuliah pun kadang kukorbankan hanya untuk sekedar mengantar Maya.

Harapan dalam hatiku kian membuncah. Tak lama lagi Maya akan menjadi pacarku. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hatiku pada Maya. 

Sebenarnya kadang hatiku ragu. Ada beberapa teman yang mengingatkanku agar jangan terlalu banyak berharap pada Maya. Maya hanya memanfaatkanku, kata mereka.

Tapi aku telah dibutakan oleh cinta. Aku pikir temanku hanya iri saja pada kedekatanku dengan Maya. Maya yang cantik, baik, ramah, periang. Siapapun pasti suka dengan Maya.

Sampai suatu waktu, saat kegiatan mendaki gunung. Dari sejak keberangkatan sampai naik ke puncak gunung, Maya seperti agak menghindar dariku. Ia selalu berada tidak jauh dari Aldi teman dekatku juga. 

Aku melihat sepertinya memang Maya menyukai Aldi meskipun Aldi mengacuhkannya. Entah Ia memang tidak suka atau hanya menjaga perasaanku saja.  Merasa diacuhkan, Maya mulai mendekatiku.

" Kak, tunggu! Aku lelah," kata Maya ketika ketika berjalan menuju pos terakhir sebelum puncak. Ia sudah tertinggal agak jauh dari rombongan. Aku melambatka langkah menunggu Maya. Meskipun ada rasa kecewa, tapi aku tak bisa membohongi diri sendiri. Aku suka kepada Maya. Aku tak tega melihat ia berjalan kelelahan sendirian. Aku masih berharap, ketulusaku bisa menaklukan hati Maya.

" De, kamu suka Kak Aldi ya?" aku menatap Maya 
" Enggak. Biasa saja," jawabnya.
" Tadi Ade terus menempel pada Kak Aldi?"
" Ah, enggak. Kakak cemburu, ya!!"
" Tidak. Mengapa cemburu. Kita kan hanya temenan saja," kataku. Ups, aku sungguh menyesal mengatakan kata-kata itu. Tapi memang benar. Sejauh ini hubungan Aku dan Maya hanya teman. Aku belum pernah mengemukakan isi hatiku sehingga tidak tahu apa Maya suka juga padaku atau tidak.

Aku menatap wajah Maya, melihat reaksi dari jawabanku barusan. Tapi aku lihat biasa-biasa saja. Ia tidak nampak kecewa dengan jawabanku. Tadinya aku berharap ia kecewa dengan jawabanku. Jika tidak kecewa, berarti memang dia tidak menyukaiku.

" Ayo, kita berangkat lagi. Teman-teman ita sudah jauh di depan," kataku sambil mulai melangkah pelan. 

****************************************

Kesempatan untuk mengemukakan isi hatikku akhirnya muncul juga.  Sore itu aku sedang berduaan dengan Maya di taman depan kampus. Suasana cukup lengang karena hari minggu. Mahasiswa banyak yang diam di kamar kos atau pergi ke kota.

" De, ada sesuatu yang ingin aku katakan. Bolehkah aku berbicara sebentar?"
" Kakak ini aneh-aneh saja. Ini kita sedang mengobrol, kata Maya sambil tersenyum.
" Ini menyangkut hal penting. Menyangkut hubungan kita berdua," kataku sambil menatap Maya. Maya menunduk tak membalas tatapanku.
" Kamu tahu tidak, De. Sejak saat pertama aku bertemu denganmu, ada rasa yang berbeda di dalam hati Kakak. Kakak suka dengan De Maya."

Maya diam tak menjawab. Ia menunduk menghindari tatapan mataku.

" Kakak ingin tahu apakah Ade juga memiliki perasaan yang sama?"

Lama kami terdiam. Aku menunggu maya mengucapkan sesuatu yag sudah kutunggu sejak lama.

" Maaf, Kak. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang," kata Maya sambil sedikit menatapku.

Meskipun kecewa, aku tak bisa memaksa. Aku masih berharap bahwa Maya juga memiliki perasaan yang sama dengaku. Namun aku realistis saja. Sepertinya memang Maya hanya menganggap aku teman atau kakak saja. Toh jika memang suka, tentu dia tidak akan menunda jawabannya.

Sejak saat itu hubunganku dengan Maya menjadi jauh. Dan apa yang kuduga memang menjadi kenyataan. Ia menjawab pertayaanku seminggu kemudian lewat WA. Ia hanya menganggap aku kakaknya, tak lebih dari itu.


Comments :

Post a Comment