Hari
telah beranjak siang namun Pak Amir masih betah duduk di ruang tengah rumah
mertuanya. Di usianya yang menginjak 40 tahun, ia masih saja belum punya rumah.
Jangankan rumah, pekerjaan yang dapat menopang hidup keluarganya pun belum
punya. Ia hanyalah seorang guru honorer di sebuah sekolah negeri tak jauh dari
rumah mertuanya.
“
Pak, ini sudah siang. Kok belum berangkat?. Ayo berangkat nanti kesiangan!” ajak
istrinya yang sudah siap berangkat.
“
Entahlah.. Hari ini Bapak mungkin tidak pergi ke sekolah,” jawab Pak Amir.
“
Lho, memangnya Bapak mau ke mana?” tanya istrinya heran.
Pak
Amir tak menjawab. Dengan langkah gontai Pak Amir bangun dari duduknya. Ia
kemudian pergi keluar, menyalakan motor dan pergi kesekolah berboncengan dengan
istrinya.
Di
sekolah Pak Amir tidak seperti biasanya. Tanpa basa-basi ia langsung saja pergi
ke kelas. Setelah memberi tugas muridnya, ia duduk termenung di meja guru,
dihadapan muridnya yang sedang bekerja. Di dalam otaknya berputar perjalanan
kehidupannya dari selepas kuliah sampai menjadi guru di sekolah.
Dari
segi pendidikan Pak Amir sudah S1 dari sebuah universitas negeri yang
menyelenggarakan kuliah jarak jauh. Ia telah lulus kuliah sebagai sarjana
pendidikan sekitar tiga tahun yang lalu. Sebelum kuliah di jurusan
kependidikan, Pak Amir juga telah memiliki ijazah S 1 jurusan ekonomi dari
universitas ternama di kotanya.
Nasib
atau entah apa yang membuat Pak Amir terjun menjadi guru sekolah dasar. Padahal
basic pendidikannya adalah sarjana ekonomi. Seharusnya Dia bekerja di kantor
atau menjadi pengusaha sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Selepas
kuliah, Pak Amir bukannya tidak pernah mencoba melamar pekerjaan di bidang
lain. Namun tak satupun posisi yang ia dapatkan sehingga akhirnya ia melihat
ada peluang menjadi guru di sekolah dekat rumah mertuanya.
Kebetulan
sekolah itu kekurangan guru karena banyak guru yang pensiun. Meskipun tidak
memiliki ijazah kependidikan, sekolah dengan senang hati menerima surat lamaran
Pak Amir. Pak Amir juga sama senangnya diterima di sekolah tersebut, meskipun
dari awal kepala sekolah sudah mewanti-wanti pada Pak Amir bahwa sekolah tidak
memiliki dana yang memadai untuk menggaji Pak Amir. Pak Amir rela digaji dengan
seadanya karena dia memiliki setitip harapan suatu saat nanti pemerintah akan
memperhatikan nasibnya.
Tahun
demi tahun terlewati, namun nasib Pak Amir tetap saja sama. Gaji dari sekolah
tak pernah cukup untuk menghidupi keluarganya sehingga ia menyambi menjadi
tukang ojek selepas sekolah. Meskipun tidak berlebih, penghasilan dari mengojek
sedikit banyak dapat menutupi ekonomi
keluarganya.
Sama
dengan Pak Amir, istrinya juga adalah seorang guru honorer. Berbeda dengan Pak
Amir, Istrinya sudah sejak awal bergelar sarjana pendidikan. Ia bertugas di
sekolah yang sama dengan Pak Amir. Jika Pak Amir mengajar di kelas 5, istrinya
mengajar di kelas 1.
Bukan
tidak terpikir di benak Pak Amir untuk berganti profesi. Namun ia bingun karena
tidak punya keahlian lain selain mengajar di sekolah. Pernah ia mencoba
berdagang keliling sebagai pedagang makanan ringan anak-anak, namun hanya
sebentar saja dilakoninya. Pak Amir merasa tidak memiliki bakat dalam
berdagang.
Pada
tahun 2014, kesempatan untuk menjadi PNS Muncul. Kala itu atas perjuangan
rekan-rekan Pak Amir, pemerintah memberikan kesempatan kepada para honorer
untuk ikut tes CPNS jalur khusus honorer kategori 2. Saat itu Pak amir antusias
mengikuti tes, namun ia tak lolos. Ia kalah oleh rekan-rekannya yang lebih
muda, sehingga Pak Amir tetap saja menjadi guru honorer.
Meskipun
tidak lolos dalam tes CPNS, Pak Amir tetap semangat mengajar. Ia masih memiliki
keyakinan bahwa pemerintah akan mengangkat menjadi PNS suatu saat. Keyakinan
itulah yang selalu memperkuat langkah Pak Amir untuk selalu pergi ke sekolah.
Selain
itu, Pak Amir sudah kadung merasa nyaman menjadi guru. Dengan menjadi guru ia
bisa mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Ia juga merasa mengajar itu menyenangkan.
Masalah yang mendera hidupnya terasa hilang jika sudah berhadapan dengan murid
di kelas.
Namun
akhir-akhir ini ia menjadi galau. Semangat mengajarnya hilang. Keyakinannya
bahwa pemerintah akan mengangkatnya menjadi PNS pupus sudah. Sudah berpuluh kali
organisasi honor yang menaungi melakukan audiensi bahkan demonstrasi di depan istana merdeka, namun
pemerintah nampaknya sudah bulat dalam keputusannya. Tidak ada pengangkatan
otomatis bagi guru honorer.
Berhari-hari ia berfikir
. Bahkan dengan istrinya pun ia sudah meminta pendapat. Namun tetap saja sulit
untuk mengambil keputusan. Sepuluh tahun lebih menjadi guru membuat pikiran Pak
Amir bimbang. Ia sudah nyaman dengan pekerjaannya, meskipun secara materi tidak
mencukupi. Jika saja ia berspekulasi untuk keluar dan memulai usaha baru, ia
tak yakin. Apakah usahanya akan berhasil?

Comments :
Post a Comment