Di daerah saya Bulan Dzulhijjah lebih dikenal dengan Bulan Rayagung. Bulan ini juga bisa disebutkan bulan hajatan. Banyak keluarga yang menyelenggarakan hajatan perkawinan atau khitanan di bulan ini. Dalam satu bulan bisa lebih dari 4 buah undangan yang didapat. Jika saja satu buah surat undangan seharga 50.000 maka untuk 4 undangan dibutuhkan 200.000 untuk memenuhinya.
Tradisi hajatan pada awalnya merupakan manifestasi dari sikap gotongroyong di masyarakat. Tak ada hitungan untung rugi dalam tradisi hajatan di jaman dulu. Jika ada seseorang yang mempunyai pekerjaan menikahkan putra/putrinya , maka orang sekampung akan datang ke rumah si empunya hajat dengan tujuan membantu sebisanya. Ada yang membawa kayu bakar, beras, pisang, ikan dan lain-lain. Selain itu pekerjaan membuat panggung, mengambil ikan di kolam, mengambil daun jati untuk bungkus nasi dilakukan secara sukarela oleh seluruh warga.
Sekarang hajatan lebih berkembang ke arah bisnis. Seseorang yang menyumbang kepada siempunya hajat akan ditulis di sebuah buku sebagai catatan jika nanti penyumbang tersebut melaksanakan hajatan, maka uang sejumlah tersebut harus dibayarkan. Karena sifatnya yang berubah makadi akhir hajatan siempunya hajatan akan hitung-hitungan untuk melihat untung ruginya hajatan. .
Di satu sisi tradisi ini merupakan manifestasi dari rasa gotongroyong masyarakat di pedesaan. Namun karena arah tujuannya sudah berubah, maka bagi sebagian orang hajatan kadang menjadi beban karena harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyumbang orang yang hajatan. Orang sekarang berlomba-lomba menyumbang dengan nominal yang besar dengan harapan nanti jika dia hajatan, maka uang tersebut akan kembali.

Comments :
Post a Comment